Artikel
Optimisme Potensi Pemanfaatan Tenaga Nuklir dalam Mendukung Target Nol Emisi Karbon (Net Zero Emission/NZE) | Prosiding SKN 2024
Dalam upaya mewujudkan target ambisius Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060, tenaga nuklir kini mulai dilirik sebagai solusi strategis Indonesia untuk menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK). Hal ini terungkap dalam Prosiding Seminar Keselamatan Nuklir 2024 yang disampaikan oleh Hermawan Puji Yuwana dari BAPETEN.
Seiring meningkatnya kekhawatiran dunia terhadap dampak perubahan iklim akibat GRK, Indonesia mempersiapkan berbagai strategi konkret, termasuk pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) yang rendah karbon. "Nuklir adalah energi bersih yang dapat menjadi penyeimbang bauran energi nasional," ungkap Yuwana. Meski hingga kini belum ada kepastian jumlah dan kapasitas PLTN yang akan dibangun, optimisme terus digaungkan.
Selain sebagai pembangkit listrik, nuklir juga dipertimbangkan untuk membantu mengatasi persoalan limbah plastik melalui teknologi iradiasi. Dengan metode depolimerisasi, plastik dapat diurai lebih cepat sehingga mengurangi pencemaran lingkungan. Namun, Yuwana menegaskan, "Kontribusi nuklir untuk mengurangi emisi karbon dari pengolahan limbah masih memerlukan kajian lanjutan sebelum dapat dihitung secara konkret."
Indonesia sendiri menargetkan penurunan emisi GRK sebesar 29% (834 juta ton CO2-eq) pada 2030. Tenaga nuklir bisa menjadi kunci dalam upaya besar ini, bersinergi dengan energi baru terbarukan (EBT) lainnya. Pemerintah saat ini juga tengah membahas Rancangan Undang-Undang Energi Baru dan Terbarukan (RUU EBET) yang memasukkan nuklir sebagai bagian dari sumber energi masa depan Indonesia.
Meskipun tantangan seperti ekonomi, keselamatan, keamanan, hingga penerimaan sosial masih menjadi ganjalan, arah kebijakan yang mulai positif menunjukkan bahwa "energi nuklir bukan lagi sekadar wacana, tapi mulai dipetakan dalam peta jalan menuju Indonesia hijau dan berkelanjutan."
(Tim Perpustakaan).
Tidak tersedia versi lain