Artikel
Analysis of the Standardization Needs for Reuse Products of Tin Slag 2 as a Substitute Material in Building Mortar Construction | JUPETEN 2025
Indonesia dikenal memiliki sumber daya timah yang melimpah, terutama dari Kepulauan Bangka Belitung. Namun, di balik industri peleburan timah yang berkembang pesat, muncul tantangan baru berupa penumpukan tin slag 2—limbah hasil pemurnian timah yang berpotensi mengandung bahan radioaktif.
Peneliti dari Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN), Hermawan Puji Yuwana, melalui kajiannya menyoroti pentingnya standardisasi tin slag 2 agar dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan pengganti dalam mortar atau beton bangunan tanpa mengancam keselamatan publik dan lingkungan.
Dalam penelitian yang diterbitkan di Jurnal Pengawasan Tenaga Nuklir (Jupeten) edisi Desember 2025 ini, ditemukan bahwa secara fisik, tin slag 2 memenuhi sebagian besar parameter mutu material konstruksi berdasarkan standar SNI dan ASTM. Namun, dari sisi radiologi, hasil pengukuran menunjukkan kadar radioaktivitas yang cukup tinggi, dengan indeks konsentrasi aktivitas mencapai 90,92, jauh di atas batas aman yang ditetapkan standar internasional EN 17637:2022. Hal ini menjadikan tin slag 2 belum layak langsung digunakan sebagai bahan bangunan tanpa proses pengendalian tambahan.
Yuwana menegaskan bahwa standardisasi menyeluruh diperlukan, mencakup aspek fisik, kimia, dan radiologis, guna memastikan kualitas, keamanan, dan keberterimaan lingkungan dari produk daur ulang tersebut. Standarisasi juga akan membuka peluang penerapan ekonomi sirkular di sektor konstruksi, dengan mengubah limbah industri menjadi material bernilai guna.
Selain itu, penelitian ini menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah, lembaga standardisasi, industri, dan universitas untuk mengembangkan standar nasional yang selaras dengan praktik internasional seperti SNI 9290:2024 dan JIS A 5011 di Jepang. Dengan demikian, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan konstruksi konvensional sekaligus meningkatkan keberlanjutan industri.
“Dengan menetapkan standar teknis yang tepat, tin slag 2 bisa menjadi solusi inovatif yang aman, efisien, dan ramah lingkungan bagi pembangunan masa depan,” ujar Yuwana dalam penutup laporannya.