Artikel
Optimasi Dosis Pada Kanker Usus Besar Dengan Terapi Proton Menggunakan PHITS Versi 3.341 | JUPETEN 2025
Terapi proton kembali menunjukkan potensi besar sebagai metode pengobatan kanker yang lebih presisi dan aman. Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Jurnal Pengawasan Tenaga Nuklir (Jupeten) mengungkap bahwa arah penyinaran Anterior–Posterior (AP) merupakan pilihan paling efektif dalam terapi proton untuk kanker usus besar, dengan paparan minimal pada organ sehat di sekitarnya.
Penelitian ini dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Pertahanan Republik Indonesia dengan memanfaatkan simulasi komputer berbasis metode Monte Carlo menggunakan perangkat lunak PHITS versi 3.341. Simulasi tersebut bertujuan mengoptimalkan dosis radiasi agar tepat mengenai tumor, sekaligus melindungi organ at risk (OAR) seperti usus, tulang panggul, dan kulit.
Kanker usus besar sendiri merupakan salah satu kanker dengan jumlah kasus tertinggi di Indonesia. Karena letaknya yang dekat dengan banyak organ vital, pengobatan kanker ini membutuhkan ketelitian tinggi agar terapi efektif tanpa menimbulkan efek samping serius. Di sinilah terapi proton dinilai unggul dibandingkan radioterapi konvensional berbasis foton.
Dalam penelitian ini, simulasi dilakukan dengan lima variasi arah penyinaran proton. Hasilnya menunjukkan bahwa penyinaran dari arah depan tubuh (Anterior–Posterior) menghasilkan distribusi dosis paling optimal. Dosis yang diserap organ sehat tercatat sangat rendah, yakni sekitar 0,02 Gy pada usus besar, 0,004 Gy pada panggul, dan 0,001 Gy pada kulit, sementara tumor tetap menerima dosis terapi yang efektif.
Selain itu, arah AP juga membutuhkan waktu penyinaran paling singkat, sekitar 73 detik per fraksi, sehingga dinilai lebih efisien dan berpotensi meningkatkan kenyamanan pasien selama terapi. Temuan ini memperkuat keunggulan terapi proton yang memanfaatkan fenomena Bragg Peak, yaitu kemampuan proton melepaskan energi maksimum tepat di lokasi tumor dan berhenti setelahnya.
Para peneliti menilai hasil ini dapat menjadi referensi penting dalam pengembangan sistem perencanaan terapi proton di Indonesia, yang saat ini masih dalam tahap pembangunan. Mereka juga merekomendasikan percepatan pembangunan fasilitas terapi proton nasional serta pemanfaatan simulasi berbasis perangkat lunak seperti PHITS dalam protokol klinis.
Dengan riset ini, terapi proton semakin menunjukkan harapan sebagai solusi pengobatan kanker yang lebih aman, presisi, dan berorientasi pada kualitas hidup pasien. Penelitian ini diharapkan menjadi pijakan awal bagi penerapan terapi proton secara lebih luas di layanan kesehatan Indonesia (Tim Perpustakaan)
| Judul | Edisi | Bahasa |
|---|---|---|
| Telaahan Kebutuhan Terapi Radiasi Dalam Penanganan Kanker | id |