Artikel
TINJAUAN ALIH PENGETAHUAN MELEKAT (TACIT KNOWLEDGE) DALAM RANGKA MELINDUNGI PENGETAHUAN KRITIS DI BAPETEN | Prosiding SKN 219
Telah dilakukan tinjauan mengenai implementasi manajemen pengetahuan di BAPETEN terkait dengan alih pengetahuan melekat dari pegawai senior ke pegawai junior. Pengetahuan melekat merupakan pengetahuan yang terdapat dalam pikiran seseorang sesuai dengan pemahaman dan pengalaman orang tersebut (tacit knowledge). Tinjauan ini sendiri dilakukan untuk mengkaji sejauh mana implementasi Manajemen Pengetahuan (MP) untuk pengetahuan melekat BAPETEN dan menentukan langkah perbaikannya. Lingkup makalah mencakup alih pengetahuan melekat ke pengetahuan eksplisit pada pegawai senior, sedangkan metodologi berupa observasi, tinjauan pustaka dan wawancara dengan praktisi sebagai pengkayaan. Harapannya, ditemukan rekomendasi solusi atau alternatif untuk mengoptimalkan upaya alih pengetahuan pada pengetahuan melekat milik pegawai senior dan mensukseskan MP di BAPETEN. Dengan pertimbangan resiko hilangnya critical knowledge ketika pegawai senior tersebut pensiun, pindah atau keluar, maka upaya pendokumentasian pengetahuan melekat harus dilaksanakan. Pelaksanaan alih pengetahuan akan lebih efektif, tertelusur dan sistematis jika dilakuan dengan teknik yang tepat dan dilaksanakan sesuai prosedur. Dokumen Manajemen Pengetahuan dan Sistem Manajemen BAPETEN telah mendukung upaya alih pengetahuan namun prosedur terkait belum ditetapkan. Berdasarkan tinjauan urgensi ditetapkannya prosedur dan metode yang efektif dan efisien, maka dapat diketahui kerangka prosedur pelaksanaan alih pengetahuan melekat ke pengetahuan eksplisit dari pegawai senior. Disimpulkan bahwa dengan menggunakan konsep 5W1H, metode alih pengetahuan dapat disusun menjadi prosedur terkait dan metode yang dapat digunakan antara lain wawancara dan observasi. Faktor sosial yang meliputi faktor individu seperti jaringan sosial pegawai, retensi pengetahuan, motivasi dan sense of belonging juga turut mempengaruhi efektivitas pelaksanaan alih pengetahuan. Untuk mengantisipasi hambatan alih pengetahuan dari faktor sosial tersebut diperlukan insentif atau reward dan role model dari pimpinan di samping dukungan waktu dan sumber daya. Dengan demikian hambatan-hambatan dalam alih pengetahuan melekat dapat diatasi.
| Judul | Edisi | Bahasa |
|---|---|---|
| Successful Implementation of Knowledge Management in Indonesia | id |