Book
Jejak pena pustakawan
Profesi pustakawan tidak hanya identik dengan mengelola koleksi dan melayani pemustaka. Di era informasi, pustakawan juga dituntut mampu menghasilkan karya tulis yang dapat memperkaya khazanah ilmu pengetahuan sekaligus menginspirasi masyarakat. Semangat inilah yang dihadirkan Atin Istiarni dan Triningsih melalui buku Jejak Pena Pustakawan. Buku ini merupakan kumpulan tulisan atau antologi yang merekam gagasan, pengalaman, dan refleksi kedua penulis sebagai pustakawan yang aktif menulis di berbagai media, baik media cetak maupun media daring. Buku ini diterbitkan oleh Azyan Mitra Media pada tahun 2018 dengan ketebalan xix + 261 halaman.
Buku ini menyampaikan pesan bahwa menulis merupakan bagian penting dari pengembangan profesi pustakawan. Melalui tulisan, pustakawan dapat berbagi pengetahuan, menyampaikan gagasan, mendokumentasikan pengalaman, hingga membangun citra positif profesinya di tengah masyarakat. Penulis menunjukkan bahwa aktivitas kepustakawanan tidak berhenti pada pelayanan di perpustakaan, tetapi dapat diperluas melalui publikasi yang memberi manfaat bagi khalayak.
Beragam tema disajikan dalam buku ini, mulai dari perpustakaan, literasi, budaya membaca, profesionalisme pustakawan, pengembangan diri, hingga dinamika dunia informasi. Setiap tulisan lahir dari pengalaman nyata dan pengamatan penulis terhadap perkembangan perpustakaan di Indonesia. Penyajiannya yang berupa artikel-artikel pendek membuat pembaca dapat menikmati buku ini secara bertahap tanpa harus membacanya sekaligus.
Salah satu kekuatan buku ini terletak pada gaya bahasa yang komunikatif dan membumi. Penulis tidak menggunakan istilah akademik yang rumit sehingga isi buku mudah dipahami oleh berbagai kalangan. Walaupun ditulis oleh pustakawan, pembahasannya tidak hanya relevan bagi sesama pustakawan, tetapi juga bagi guru, mahasiswa, pegiat literasi, serta masyarakat yang memiliki minat terhadap dunia pendidikan dan kepenulisan.
Selain memberikan wawasan mengenai perpustakaan, buku ini juga menjadi sumber motivasi bagi pustakawan untuk mulai menulis. Penulis menunjukkan bahwa karya tulis dapat menjadi jejak profesional yang bernilai, sekaligus sarana berbagi pengalaman dan membangun jejaring keilmuan. Pesan tersebut terasa kuat karena kedua penulis sendiri merupakan pustakawan yang produktif menerbitkan artikel di media massa, jurnal, dan buku.
Meskipun demikian, karena berupa kumpulan artikel, terdapat beberapa pembahasan yang berdiri sendiri sehingga alur antarbab tidak selalu saling berkaitan. Pembaca yang mengharapkan pembahasan mendalam mengenai satu topik tertentu mungkin memerlukan referensi tambahan. Namun, justru keberagaman tema menjadi nilai lebih karena memberikan perspektif yang luas mengenai profesi pustakawan dan gerakan literasi.
Secara keseluruhan, Jejak Pena Pustakawan merupakan bacaan yang inspiratif bagi pustakawan maupun calon pustakawan. Buku ini membuktikan bahwa pustakawan dapat berkontribusi tidak hanya melalui layanan informasi, tetapi juga melalui tulisan yang mampu mengedukasi, menggerakkan, dan menginspirasi masyarakat. Di tengah tuntutan profesionalisme dan perkembangan teknologi informasi, kemampuan menulis menjadi salah satu kompetensi penting yang perlu terus dikembangkan. Buku ini layak menjadi koleksi perpustakaan dan referensi bagi siapa saja yang ingin menjadikan menulis sebagai bagian dari perjalanan profesionalnya ( Tim Perpustakaan).
| Judul | Edisi | Bahasa |
|---|---|---|
| Falsafah Kepustakawanan | id |