Bahan Diklat
Workshop Proteksi Radiasi Radiologi Intervensional, Jakarta, 4&5 November 2015
Dokumen ini merupakan materi dari Workshop Proteksi Radiasi Radiologi Intervensional yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 4 dan 6 November 2015. Workshop ini membahas perkembangan pesat radiologi intervensional serta risiko radiasi yang menyertainya, baik bagi pasien maupun staf medis (dokter, radiografer, dan perawat).
Materi diawali dengan sejarah singkat radiologi intervensional yang dipelopori oleh Charles Dotter pada tahun 1950-an, kemudian berkembang pesat dengan kemajuan teknologi pencitraan, desain kateter, serta prosedur seperti penggunaan balon dan stent. Meskipun memberikan keuntungan besar bagi pasien (biaya dan risiko lebih rendah dibanding bedah), prosedur ini melibatkan fluoroskopi dalam waktu lama dan sinar-X berintensitas tinggi yang dapat menyebabkan efek radiasi stokastik dan deterministik.
Dokumen ini menyoroti risiko kerusakan kulit pada pasien akibat fluoroskopi, dengan merujuk pada laporan FDA (1994) dan studi kasus oleh K. Faulkner et al. (2001) yang mencatat sejumlah pasien mengalami luka bakar hingga memerlukan cangkok kulit. Selain itu, staf juga berisiko menerima dosis radiasi hambur yang tinggi, terutama pada mata yang dapat menyebabkan katarak, sebagaimana contoh kasus di rumah sakit Spanyol.
Dengan demikian, workshop ini menekankan pentingnya proteksi radiasi, pencatatan dosis (seperti Dose Area Product/DAP), dan penggunaan alat pelindung untuk meminimalkan risiko baik bagi pasien maupun petugas medis dalam praktik radiologi intervensional (Tim Perpustakaan),
| Judul | Edisi | Bahasa |
|---|---|---|
| Kajian Keselamatan Radiologik untuk Pengawasan di Fasilitas Radiologi Diagnostik dan Intervensional, TA. 2009 | - | id |